Kehidupan ku di Denpasar ini membuat ku menyadari tentang banyak hal. Dari mulai harus beradaptasi dengan lingkungan baru, teman baru, dosen baru, kampus baru, dll. Kemudahan dan kenikmatan yang dulu dijalani berubah, semua serba mandiri dan sendiri. Tentang lingkungan yang hmm, dulu lingkungannya tidak sebebas yang sekarang tapi kenapa malah tidak menyamankan? Mungkin aku saja yang tidak menikmatin kehidupan disini. Tentang teman-teman yang berubah 100%. Sangat jarang menemukan teman yang layak untuk bercerita disini, karna itu aku semakin tertutup dan introvert. Perangaiku yang dulu sedikit banyak berubah, kembali buruk setelah disini membuatku semakin susah bersosialisasi dan membangun pertemanan. Semakin bertambah buruk karna tidak mengerti bahasa lokal disini. Selain susah bersosialisasi, aku juga semakin sering badmood, jutek yang membuat aku semakin kehilangan teman. Aku semakin sadar, perangaiku yang seperti ini membuat aku dijauhin oleh teman. Aku cukup sering bercerita, tentang kehidupan ku disini dan ketidaknyamananku pada teman lama. Saran mereka sama, meminta aku lebih terbuka, lebih sering bersosialisasi, jangan di kamar terus, jangan marah-marah terus. Saran mereka sudah sangat sering aku ikuti. Misalnya, ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanku atau tidak membuat aku nyaman, aku lebih baik diam karna tidak ingin marah dan melampiaskannya pada temanku. Tapi kadang temanku salah mengartikannya dan menganggap aku marah. Ya memang aku marah, tapi aku tidak ingin melampiaskannya padanya, terlebih lagi saat aku marah, aku akan meluapkannya sampai aku tidak sadar atas ucapanku. Kadang dalam hati aku menggerutu karna ulah temanku, tapi aku tidak bisa menegurnya karna aku takut jika suatu saat aku melakukan hal yang dia lakukan saat ini, aku ada akan ditegur. Jujur, aku takut malu, seperti misalnya jika aku ditegur dan itu membuat aku menjadi pusat perhatian, itu akan membuatku membenci dan tidak menyukai orang tersebut, dan yang paling kutakutkann adalah akan membangun dendam terhadao orang tersebut. Aku cukup stres menghadapi pertemanan disini. Aku tidak berharap tulisanku ini akan dibaca oleh teman-temanku. Aku rindu teman lamaku di kampus lamaku, tapi aku cukup mengerti jika mereka sibuk dan aku tidak bisa menambah merepotkan mereka akan aku. Aku rindu, sangat rindu. Ingin mengungkapkannya tapi apa mereka mau mendengar? Aku cukup senang, karna setidaknya aku masih sering bertukar kabar dengan satu atau dua temanku disana. Aku butuh homeostatis dalam tubuhku. Mungkin orang akan menganggapku mudah baper. Aku ingin meminta maaf pada temanku yang sering aku tolak ajakannya untuk sekedar makan dan atau menginap di kosnya. Aku memang mager, dan terlebih lagi aku tidak nyaman di tempat orang, aku takut kehadiranku akan membuat dia tidak nyaman. Tapi syukurlah, dia sudah menemukan teman-temannya yang bisa diajak untuk makan ataupun menginap. Aku tidak berharap dia membaca tulisanku ini. Aku pikir aku hanya bisa berkeluh kesah pada Tuhan dan pada blog ini, aku tidak ingin membaginya pada orang tuaku atau orang terdekatku.
Hai uti? Apa kabar? Walaupun kita udah pernah chat pas aku udah di Denpasar, tidak membuat hubungan kita jadi dekat lagi yaa. Aku gak tau, uti nahan itu atau gak karna pasti uti bakal mendem itu sendiri kalo memang gak penting buat diceritain. Dulu aku bilang pas pergi, semoga uti bisa terbiasa tanpa aku, kayaknya itu kebalik ke aku deh ti. Aku berusaha menjadi aku yang baik pas ada uti di deket aku disini, tapi susah. Aku gak bisa sebebas itu buat cerita sama orang kayak pas aku cerita ke uti. Aku kangen denger cerita uti. Aku kangen kita begadang karna ngerjain tugas ataupun ngejulidtin orang. Disini gak ada seperti orang itu ti jti jadi disini gak terlalu menarik. Aku pengen main kesana tapi mungkin waktunya gak pas, selalu tidak pas. Banyak banget yang pengen aku ceritain ke uti, tapi aku gak enak sama uti. Tiap inget uti aku pengen nangis. Ini gak jadi nangis padahal tadi waktu nulis pengen nangis tapi tulisannya entah kemana. Maaf yaa aku gak bisa dengerin curhatnya uti. Kalo ada yang nanyain siapa yang paling dikangenin di Surabaya aku bakal bilang uti sekenceng-kencengnya. Karna memang gak ada yang bisa gantiin uti. Maaf yaa perpisahan kita gak semenye-menye orang kira, gak ada pelukan ala teletabis di bandara, yang ada uti yang selalu diem sambil main hp. Aku selalu mencari sosok uti di temen-temen ku yang baru, tapi memang gak ada yang gantiin posisi uti.
Masih banyak banget keluh kesahku disini. Semoga ada waktu lagi untuk meceritakan itu semua.
Komentar
Posting Komentar